Manusia ialah kumpulan kebiasaan-kebiasaan kecil, kebiasaan yang bermula dari hal-hal yang dimulai sesekali kemudian mengakibatkan rasa ketagihan sampai alhasil berulang-ulang dilakukan. Ketika berulang-ulang dilakukan maka yang terjadi ialah bab badan kita kawasan kita berpikir menjadi begitu terlatih melakukannya sehingga alhasil apa yang dilakukan itu menjadi sangat otomatis bahkan hampir sanggup dikatakan dilakukan tanpa disadari. Yang kita pikirkan hanyalah bagaimana hal tersebut bisa mendorong kita melakukannya tanpa kita bisa menghentikannya.
Sebenarnya tidak ada kebiasaan baik ataupun buruk, yang ada ialah kebiasaan yang akan membawa kita menuju ke tujuan utama kita dalam kehidupan, atau bahkan membawa kita menjauhi tujuan kita. Problemnya ialah alasannya kebiasaan bersifat sangat otomatis, maka sering kali pengetahuan semata tidak sanggup atau cukup gampang untuk membuatnya berubah. Dibutuhkan motivasi dari dalam yang sangat besar, serta menggantikan kebiasaan yang kurang sesuai dengan tujuan kita dengan kebiasaan lainnya yang lebih sesuai dan sejalan.
Menyembunyikan pengeluaran dan penghasilan tertentu dari pasangan ialah salah satu pola selingkuh
Berikut ialah beberapa kebiasaan yang cukup mengganggu yang dirangkum oleh DR. Ted dan Brad Klontz yang bisa mempengaruhi kondisi keuangan dari yang ringan sampai yang berat:
Belanja kompulsif
Kebiasaan belanja kompulsif ditandai dengan obsesi terhadap acara belanja dan membeli, sikap ini mendorong pelakunya untuk membelanjakan uang baik yang dimilikinya atau bahkan bisa saja uang yang belum atau tidak dimiliki. Di dunia yang sangat konsumtif ibarat ketika ini, kebanyakan pola belanja kompulsif didorong oleh motivasi untuk identitas dan status atau sosio ekonomi, untuk menawarkan kemampuan dan rasa percaya diri, tetapi tidak menutup kemungkinan sebagai penyeimbang emosional, alasannya pada orang yang melaksanakan belanja kompulsif sikap belanja menjadi ketika yang sangat dinantikan, didambakan dan mengakibatkan kepuasan luar biasa dan rasa bahagia yang membebaskan dirinya dari rasa cemas dan stress dan sering kali disebut sebagai terapi belanja.
Berjudi dan berspekulasi
Kebiasaan ini tidak hanya berjudi secara harfiah, tetapi juga bisa terjadi ketika seseorang berpikir bahwa beliau melaksanakan investasi padahal bergotong-royong beliau berspekulasi. Berharap dalam waktu bersahabat pilihan investasinya akan meningkat dengan cepat dan memperoleh laba dalam waktu singkat dan berlipat-ganda. Orang yang melaksanakan spekulasi ialah orang yang bahagia tertantang dan cenderung menyukai risiko, motto mereka ialah “keuntungan sebesar-besarnya atau rugi”. Berspekulasi secara terstruktur intinya tidak berbahaya, problemnya ialah ketika risiko yang ditanggung sangat besar dan cenderung membahayakan kondisi keuangan secara keseluruhan. Berspekulasilah sesuai dengan kemampuan dan kapasitas keuangan.
Berjudi dan berspekulasi sanggup mengakibatkan ketagihan, ketika kalah orang yang melaksanakan spekulasi cenderung untuk terdorong melaksanakan spekulasi lebih jauh untuk mengurangi tingkat kerugian yang ditimbulkan sebelumnya, sedangkan untuk yang berhasil maka orang tersebut cenderung mempunyai rasa percaya diri yang tinggi untuk kemudian berspekulasi lebih besar lagi.
Menimbun
Orang yang menimbun mempunyai kecenderungan terikat kepada barang-barang milik pribadinya. Hal ini bisa ditandai dengan kondisi di rumah. Seorang penimbun bisa saja menimbun barang-barang yang kemungkinan sudah tidak terpakai yang bergotong-royong sanggup bermanfaat untuk orang-orang lain di sekitarnya. Motto mereka ialah “suatu ketika nanti jikalau dibutuhkan”. Sehingga alhasil kondisi rumahnya dipenuhi dengan barang-barang lama yang tak terpakai. Dampak dari kebiasaan menimbun ialah rasa cemas akan kekurangan, ketakutan, dan kikir dan rasa tidak pernah cukup akan uang dan harta yang dimiliki.
Ketergantungan finansial
Kebiasaan keuangan yang satu ini sanggup berbentuk banyak sekali hal, termasuk bergantung secara keuangan kepada pasangan, kepada orangtua, perusahaan atau bahkan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan keuangannya. Perilaku ini mengakibatkan rasa rendah diri, incompetent di dunia kerja dan mengganggu kreativitas diri.
Pengingkaran
Pengingkaran ialah prosedur pertahanan klasik yang didesain untuk mengurangi kegelisahan dan rasa aib ihwal kondisi diri. Pengingkaran terjadi ketika kita berusaha mengurangi dilema keuangan dengan mencoba sebisa mungkin untuk tidak memikirkan kondisi keuangan kita daripada berusaha menghadapi kenyataannya. Orang yang melaksanakan pengingkaran sering kali takut atau enggan untuk melihat saldo tabungannya, melihat tagihan kartu kredit ataupun membicarakan kondisi keuangan mereka dengan pasangan. Pengingkaran finansial hampir selalu mengakibatkan imbas buruk. Motto mereka ialah “jika saya tidak membicarakan atau mengetahuinya, maka kemungkinan besar tidak akan ada masalah”. Akibatnya, dilema yang ada akan terus ada dan justru cenderung berlarut-larut sampai memburuk.
Selingkuh
Menyembunyikan pengeluaran dan penghasilan tertentu dari pasangan ialah salah satu contohnya. Tidak bisa dihindari kebanyakan pasangan sulit untuk membicarakan dilema keuangan alasannya uang ialah salah satu topik yang sensitif dan emosional antar pasangan. Beberapa orang bahkan bisa saja melaksanakan pembelian rumah atau kendaraan kedua tanpa persetujuan pasangan, melaksanakan investasi berisiko yang tidak diketahui pasangan sampai keputusan bisnis dan karier.
Ketika terkuak, insiden ini bisa mengganggu harmonisasi rumah tangga dan relasi dengan pasangan dan menghapus kepercayaan. Dan meskipun perselingkuhan ini tidak terkuak pun, ialah tidak sehat untuk hidup bersama dalam kondisi penuh kerahasiaan dan kebohongan.
Sulit menolak
Kebiasaan ini ialah kebiasaan keuangan yang cenderung hadir pada diri seseorang atas dasar sikap irasional untuk membantu orang lain secara finansial baik beliau bisa melakukannya ataupun tidak bisa melakukannya dan bahkan meskipun bantuannya itu tidak berdampak positif terhadap diri orang yang ia bantu. Biasanya kebiasaan ini muncul tanggapan mengaitkan uang dengan kasih sayang, menciptakan orang yang dibantu tetap berada bersahabat di sekitar mereka bahkan mungkin sampai bisa dikendalikan meskipun biasanya alhasil orang yang dibantu menjadi tergantung secara finansial kepada mereka. Sering kali tujuan mereka baik, tetapi hasilnya tidak. Sebut saja contohnya ialah proteksi orangtua yang diberikan kepada anak mereka ketika mereka sudah dewasa, alhasil semakin sulit bagi anak itu untuk menyebarkan kemampuan finansialnya. Ia akan menjadi kerdil baik secara finansial maupun emosional.
Kebiasaan-kebiasaan keuangan tersebut muncul dari banyak sekali latar belakang seseorang, lingkungan, pendidikan dan pola asuh orangtua serta acara yang sudah tertanam di bawah sadarnya. Penting untuk mengetahui banyak sekali kelainan keuangan ini semoga kita bisa mencar ilmu darinya dan bertindak lebih waspada di kemudian hari, meskipun mungkin acara kebiasaan ini masih sanggup hadir dalam kehidupan seseorang terutama di ketika seseorang itu tertekan.
Sumber dari :
http://ifpc.kontan.co.id/kebiasaan-yang-merusak-kondisi-keuangan/
Tag :
lainnya

0 Komentar untuk "Beberapa Kebiasaan Yang Mengganggu Kondisi Keuangan"